Rabu, 12 Desember 2012

Barabai Paris van Borneo


Pohon Tuan Paul Tinggal 126 Batang
Radar Banjarmasin - Utama

BARABAI sebuah kota tua yang indah dan masih menyimpan jejak penataan kota di masa kolonial Belanda.  Menariknya, foto-foto peninggalan tentang kota ini di masa lalu juga masih menjadi koleksi Tropenmuseum Belanda dan sudah banyak beredar di dunia maya.
Dari foto-foto tersebut terlihat, desain kota saat ini tidak jauh berubah.  Lapangan Dwi Warna yang sekarang menjadi ruang terbuka hijau bagi warga Kota Barabai, masih berfungsi seperti dulu kala.  Pun disekeliling lapangan bola itu, pohon mahoni berusia ratusan tahun yang tetap rindang menemani santai orang Barabai. pohon kuat yang berusia ratusan tahun itu tetap kokoh berdiri dan jadi sejarah terciptanya kota barabai yang zaman dulu dijuluki Paris Van Borneo.
Jarak antar batang pohon itu kian serasi dengan jalan mungil mengelilingi lapangan yang saat ini menjadi pusat pemerintah Hulu Sungai Tengah. Konon kabarnya, tata kota Barabai disesuaikan dengan selera orang Eropa.
Kisah tentang penataan Kota Barabai sendiri memang banyak diketahui tokoh-tokoh tua di sana, namun kebanyakan dari mereka mengetahuinya secara turun temurun.  Ketika wartawan koran ini berusaha untuk mendapatkan sumber resmi, sulit untuk menemukannya.
Namun, rata-rata mereka mengenal nama orang yang punya andil dalam pembangunan Barabai, ia adalah Tuan Paul.  Dari informasi yang didapat Radar Banjarmasin, Paul adalah seorang keturunan Jerman yang bekerja pada pemerintah Hindia Belanda sebagai kepala V & W, singkatan dari "Verkeer & Waterstaat" yang mengurusi bidang Transportasi dan Pekerjaan Umum.
Sayang, saat ini pohon peninggalan Paul sudah mulai rapuh dimakan usia.  Beberapa pohon bahkan sudah ada yang roboh dan harus dipangkas dahannya, karena sudah mengering dan dikhawatirkan bisa jatuh sewaktu-waktu.
“Terhadap pohon peninggalan yang menjadi saksi sejarah tersebut, kita sudah lakukan pemeliharaan dan pengecekan secara berkala,” ujar Kepala BPLH (Badan Pengendalian Lingkungan Hidup) Ahmad Tamzil kepada Radar Banjarmasin.
Pohon peninggalan Belanda yang tersisa menurut Tamzil saat ini ada 126 batang.  Sebagai upaya pelestarian, Pemerintah HST juga menyiapkan pohon pengganti dari pohon yang sudah tumbang dan batang pohon terlihat sudah rapuh.
“Kita sudah tanam bibit mahoni baru.  Usianya sudah 4 tahun, sampai sekarang masih kecil dan tingginya tidak lebih tiga meter. Bibit itu segaja ditanam di sela pohon yang terlihat mau mati,” ujarnya.
Sementara itu, Duncan warga Barabai pensiunan guru SMP mengakui, pohon mahoni itu memiliki andil besar menjaga suasana teduh kota Barabai.  “Tapi sekarang khawatir juga, karena pohon semakin tinggi dan batangnya sudah terlihat lapuk,” ujarnya.
Sementara Bahrudin, Ketua Aliansi LSM Barabai mengatakan, pihaknya mengkhawatir keberadaan benalu yang tumbuh di pohon-pohon tersebut. “Benalu yang bisa membuat pohon itu mati,” ujarnya. (amt/yn/bin)
 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

MATERI BERITA